Cerita Perjuangan Seorang Kakak membesarkan Adik Autis dan Ibu yang Lanjut Usia
| Ket : Foto Uli bersama Ibunya, saat ditemui rumahnya. |
Daily Lumen – Merawat adik yang mengidap Autis Spectrum Disorder (ASD) atau autisme tentu perlu perjuangan lebih, seperti yang dirasakan seorang anak asal Rote Angke yang kini tinggal di Oesapa.
Ketika ditemui Daily Lumen, Angke menuturkan, awal mula dia berkisah banyak tentang penyakit autisme yang sedang dialami oleh adiknya. Kecurigaan Angke berawal ketika seorang tetangga yang bekerja sebagai dokter anak berkunjung ke rumah mereka pada saat perayaan natal pada tahun 2000 ketika adiknya berusia dua tahun.
Kepada dokter itu Angke mengatakan ,”Uli selalu omong dan tertawa sendiri padahal ada orang yang duduk dengan dia, kadang juga sempat hilang karena ikut pesiar dengan anjing yang ada dirumah jalan jalan pergi ke hutan, tapi habis itu mereka pulang kembali. Jadi beta sonde terlalu khawatir lagi intinya Uli pulang dengan aman saya perasaan saya sudah tenang”, ujar Angke.
“mungkin karena keterbatasan hidup sehingga semua keluarga menjauh dari kami, tapi kami percaya Tuhan tidak pernah jauh dari kami, karena itu kami masih ada sampai saat ini karena Tuhan, terima kasih Tuhan kau sungguh baik”, lanjut Angke.
Angke beserta adik dan ibunya memutuskan untuk pindah ke Oesapa. Mereka mulai bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. mulai ia mulai membuka kios kecil, mencari botol plastik sampai berjualan online. Ibunya yang lanjut usia juga turut membantu perekonomian keluarga dengan menganyam tas dari daun lontar kemudian dijual.
| Ket : Foto kebersamaan Kaka Angke, adik Uli dan Mama |
’’Akhirnya, sampai sekarang saya sudah mendapatkan suami, saya juga berterima kasih kepada suami saya karena bisa menerima saya dengan keadaan keluarga saya yang seperti ini. suami saya juga sudah bisa merenovasi rumah ini sehingga layak untuk dihuni oleh kami. sedih tentu saja, saya khawatir dengan masa depannya nanti. saya ingin sekolahkan Uli di Sekolah Luar Biasa ( SLB ). Tetapi terlalu jauh dan belum ada biaya juga. saya memang bekerja tetapi uang itu belum cukup untuk kebutuhan makan minum kami bertiga. jangan membandingkan pencapaian adik Uli dengan anak lain. tetapi, bandingkan capaian adik kita sendiri dari waktu ke waktu”, jelasnya.
Selain itu menurut Angke, kondisi Uli seperti ini tidak pernah ia tutupi. tetangga paham kondisi adiknya dan mereka memberi dukungan tambahan.
"Misalnya, kalau adik saya tiba-tiba tertawa atau bicara sendiri, mereka tidak akan buru-buru mencap adik saya gila, tidak bisa diurus, liar, memalukan, tapi mereka akan membantu mencari cara menenangkan adik saya," tutup Angke. (Nefi)
Komentar
Posting Komentar