“Lebih baik menjadi Kutu Buku daripada Mati Kutu”
Ket : SMA St.Arnoldus, Jln. Frans Lebu Raya Tuak Daun Merah, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. |
Daily Lumen – “Lebih baik menjadi kutu buku daripada mati kutu” adalah filosofi dari Kepala Sekolah SMA St. Arnoldus, Drs. Petrus Salu, M. A, atau yang akrab disapa Pater Piet. Penerapan wajib membaca, meringkas dan mempresentasikan buku merupakan program unggulan dari Pater Piet bagi semua anak didiknya.
SMA St. Arnoldus merupakan salah satu sekolah swasta di bawah naungan Yayasan St. Arnoldus Janssen dan Yoseph Freinademetz atau biasa dikenal dengan sebutan Yayasan Aryos milik serikat Sabda Allah (SVD) yang berada di Jl. Tuak Daun Merah, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sekolah ini sudah berdiri sejak tahun 2019.
Selama menjabat sebagai kepala sekolah, Pater Piet Salu memiliki program wajib membaca, meringkas serta menerjemahkan artikel atau buku bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. “Program ini saya terapkan sebagai strategi untuk membentuk karakter siswa agar meningkatkan daya membaca, sekaligus melatih mereka untuk bisa menulis pokok pikiran yang diperoleh dari buku dan juga melatih mereka untuk percaya diri saat berbicara di depan umum melalui presentasi yang disaksikan oleh para guru dan teman-temannya” ujar Pater Piet saat ditemui di kantornya, Jumat, 20/5/22.
“Program wajib membaca, meringkas dan mempresentasikan ini, awalnya mendapat banyak penolakan dari siswa. Mereka merasa bahwa membaca adalah satu pekerjaan yang berat. Tetapi di lain sisi, para guru memberikan tanggapan positif untuk menerapkan program ini. Karena itu, kami bekerjasama untuk mendorong siswa agar terlibat aktif menjalankan program “3 M” yang ditawarkan oleh sekolah. Hasilnya sudah banyak siswa yang membaca lebih dari dua puluh buku dalam tiga tahun terakhir ini,” tambah Pater Piet.
Hal ini pun dibenarkan oleh Andy Kumanireng, selaku ketua kurikulum yang juga menjabat sebagai wakil kepala sekolah SMA St. Arnoldus Kupang. “Program 3M, merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang wajib diikuti oleh semua peserta didik di sini. Kami para guru turut mendampingi siswa-siswi dari kelas sepuluh sampai dua belas dalam menjalankan program tersebut. Hal ini kami buat agar memotivasi mereka untuk banyak membaca karena dari membaca wawasan dan pengetahuan mereka akan menjadi luas,” jelas Andy.
Ketika ditemui oleh tim Daily Lumen, Gerardus siswa kelas XI SMA St. Arnoldus Yansen, menceritakan pengalamannya terkait program sekolah yang sedang ia ikuti. “Awalnya saya merasa bahwa tugas ini akan menjadi beban karena harus meluangkan waktu ekstra untuk membaca, dan meringkas. Saya mengalami kesulitan saat mempresentasikannya di depan para guru dan teman-teman karena merasa tidak percaya diri. Syukurnya bahwa guru selalu memberi semangat dan terus mendampingi dalam mengikuti program sekolah ini. Sekarang, saya tahu bahwa membaca memiliki banyak manfaat bagi diri. Sejauh ini saya telah membaca 10 buku”, ujar murid itu. (Veronika)
Komentar
Posting Komentar